TERJUN dalam bisnis perhotelan tak selamanya menempatkan fasilitas di atas segala-galanya. Ternyata bagi Presiden Direktur Hotel Grand Zuri, Nicodemus Hasan Kurniawan, ketersediaan fasilitas atau properti hanya menyumbang kesuksesan 25 persen saja.
Sisanya hampir 75 persen menempatkan pelayanan sebagai kunci utama berhasil atau tidaknya bisnis ini. “Justru bagi saya, nyawa suatu hotel adalah pelayanan. Bagaimana kita memberikan
servis terbaik bagi tamu agar dia betah berlama-lama menginap di hotel atau paling tidak dia kembali lagi ke hotel kita. Justru untuk sumbangsih kemewahan fasilitas persentasenya kecil,” kata pria yang sukses mengembangkan sayap Hotel Grand Zuri hingga lima kota sekaligus.
Selama ini, kata Nico sapaan akrabnya, orang sering salah mengartikan bahwa bisnis hotel identik dengan kemewahan dan kemegahan fasilitas. Semakin mewah faslitas dari gedung, tatanan
kamar, ruang mandi, ballroom hingga tempat sampah sekalipun orang berpikir bahwa hotel itu akan maju. Padahal pendapat itu tidak selamanya benar. Maju dan tidaknya bisnis ini terletak
bagaimana cara karyawan memberikan pelayanan kepada tamu, tentu saja dengan standar kualitas internasional.
“Kan percuma kalau hotel mewah tapi setelah dilihat ternyata akupansi tamunya sedikit, lama kelamaan tentu bukan berkembang tapi berjalan mundur, karena tamu jika sekali tidak dilayani dengan baik, pasti dia tidak kembali lagi, padahal jualan utama hotel adalah pelayanan,” katanya.
Pengikat standar fasilitas adalah untuk menentukan status bintang. Karena di dalamnya memuat segala aturan, kalau bintang dua berarti standar keluasan kamar sudah ada, begitupun fasilitas
lainnya, dari mulai jumlah kotak sampah, standarisasi toilet, restoran bahkan bentuk jendela pun ikut menentukan. Kalau bicara sudah dapa stndar tentu untuk hitungan hotel masuk pada perkara kedua.
Yang jelas, nomor satu yang diutamakan adalah pelayanan. Semakin banyak tamu yang menginap artinya pelayanan diberikan baik. Dengan ini lama-kelamaan akan menggiring status bintang yang dilekatinya.
“Pasti kalau tamunya ramai, status bintang akan naik seiring dengan naiknya fasilitas. Ini tentu jalannya seimbang. Kuncinya utamakan dulu pelayanan baru bicara fasilitas,” katanya. (sta)