MEMASAK menjadi peran dalam rumah tangga yang kerapkali dibebankan pada perempuan. Pola pikir ini sudah mulai bergeser, bahkan akan berubah lima tahun ke depan.
Memasak akan menjadi gaya hidup mandiri bahkan kebutuhan karena penghematan. Pekerjaan memasak yang dibagi perannya, antara suami dan istri akan lebih menghemat pengeluaran.
Penghematan ini akan semakin terasa ketika jasa pekerja rumah tangga semakin tinggi, kata Chef Haryo Prabogiri Pramoe usai konferensi pers pengumuman pemenang program Bintang Dapur Royco di fCone - Lifestyle X'nter, Jakarta, Kamis (15/7) lalu.
"Perempuan maupun lelaki harus pintar memasak dan berbagi peran karena sebenarnya memasak bukan masalah gender. Gaya hidup mandiri seperti yang sudah dijalankan pasangan di negara maju, ke depannya juga bisa dijalankan di sini," kata Haryo kepada Kompas Female.
Pergeseran gaya hidup ini juga dipengaruhi karena semakin banyak lelaki yang menyenangi memasak. Memasak bukan lagi dianggap sebagai pekerjaan feminin atau pekerjaan kotor di dapur, kata Haryo yang gencar mengkampanyekan slogan "Cooking is Boy's Toys".
"Bahkan profesi juru masak lelaki semakin dihargai. Remaja pria pun menyukai masak, usai latihan basket mereka datang ke supermarket dan memasak bersama," ujar Chef Haryo mencontohkan pengalamannya tentang lelaki penggemar memasak.
Menurut Haryo, lima tahun terakhir memasak sudah menjadi gaya hidup pria. Mereka tak lagi malu mengambil peran di dapur. Apalagi, profesi koki saat ini sudah lebih dihargai.
"Juru masak merupakan profesi yang tidak ada waktu pensiun. Skill memasak membuat juru masak bisa survive, jika tak lagi bekerja di dapur masih bisa berjualan makanan atau membangun restoran," tutur Haryo, yang menciptakan tren memasak natural dari alam dan menyasar anak muda, termasuk kaum pria.