Jumat, 30 Juli 2010
  • NEWSFLASH :
    • Tribunnews.com - Portal Berita Indonesia
    • Baca Harian Umum Sriwijaya Post di epaper.sripoku.com
    • akses m.Sripoku.com di ponsel anda
  • :
Aceh Dipilih Karena Mirip Peshawar
 
1303kcm2.jpg
SERAMBI/M ANSHAR
Aparat kepolisian terlibat baku tembak dengan kelompok teroris di Desa Leupung, Aceh Besar, Jumat (12/3). Dalam baku tembak itu polisi berhasil menewaskan dua anggota teroris bersama sebuah pistol dan delapan teroris lainnya ditangkap.
Sriwijaya Post - Sabtu, 13 Maret 2010 13:16 WIB

JAKARTA - Dipilihnya Aceh sebagai basis akademi militer kelompok Jalin yang diduga sebagai teroris memiliki alasan tersendiri. Demikian dikatakan pengamat masalah teroris Mardigu Wowiek Prasantyo kepada wartawan usai diskusi mingguan bertema 'Masih Ada Teroris' di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (13/3).

"Secara bentuk tanah rendah dan tingginya sama seperti di medan perang. Ciri-cirinya sama dengan Torabora dan Peshawar yang ada di Afghanistan," ujar Mardigu.

Dikatakannya, akademi ini baru hanya untuk mempersiapkan dan membangun sel tidur. Mereka berlatih untuk mempersiapkan dan membangun sel sebagai aksi selanjutnya. Katanya, "Mereka mengejarkan semua unsur seperti sniper, bertahan hidup, dan proses perekrutan untuk membuat sel."

Selain itu, sambung Mardigu, kalau membandingkan dengan Afghanistan yang menjadikan opium sebagai sumber dana operasionalnya, di Aceh ada ganja. "Saya percaya kalau dana opium menjadi lahan hidup di Afghanistan. Begitu juga ladang ganja di Aceh bisa mejadi plan B dan C operasi mereka," katanya lagi.

Kendati demikian, Mardigu menjelaskan, mereka tidak berupaya untuk menguasai lahan ganja. Mereka hanya menjadikan itu instrumen untuk menyambung hidup. Selain juga ada upaya mendapatkan dana tambahan dari Al-Qaeda, pendukungnya dan simpati masyarakat.

Ketika ditanya apakah kontur tanah yang sama ada upaya untuk pengiriman mereka ke Afghanistan, Mardigu menjawab kemungkinannya kecil. "Untuk membangkitkan silent army. Butuh waktu satu sampai tiga tahun. Mereka kan perlu pembiasaan," tutupnya.

Pendapat Mardigu yang mengatakan ganja menjadi plan B dan C, dibantah anggota Komisi I Azwar Abubakar asal Aceh. "Ganja banyak di Aceh. Tapi di Aceh Besar tidak cukup banyak. Ganja akan bernilai jika sudah keluar Aceh," ujar Azwar.

Persda Network/Yogi Gustaman


Di Baca 956 Kali
Beri Ranting :
Nama
Email
Alamat
Komentar
Kode Sekuriti

Tulis Kode sekuriti yang ada di samping
 
Saya menerima aturan dan syarat aturan dan syarat yang berlaku
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
.