PRIA kelahiran 20 maret 1987 ini rela meninggalkan kuliahnya di Institut Teknologi Surabaya demi mengejar kariernya sebagai model dan pemain sinetron. Debut aktingnya Di sinetron Khanza langsung memasangnya sebagai pemeran utama bareng Velove Vexia. Tampangnya yang blasteran, Ambon-Belanda mampu membuat wanita-wanita kesengsem. Bahkan ia langsung mendapat peran sejajar dengan Agnes Monica di sinetron kawin massal sebagai Ben, seorang cowok urakan yang menyukai Satci. Kesuksesan terus berlanjut di perannya sebagai Vanno kakak nikita yang cintannya bertepuk sebelah tangan di sinetron Nikita.
Selasa kemarin, (9/2) Vanno hadir di Palembang dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-64 di Palembang. Ia bersesama artis lainnya terlibat diskusi hangat dengan wartawan infotainment. Tentu saja arah pembicaraan tidak jauh-jauh amat, yakni seputaran berita tentang seleb dan yang tidak jauh dari gosip dan percintaan.
Kepada Sripo, Jonas Rivanno mengaku, selain kedatangannya ke Palembang dalam rangka HPN di Palembang, sekaligus promo sinetron terbarunya "Kemilau Cinta Karmila" dan untuk sinetron kali ini, Vanno bermain bersama Asmirandah.
"Kita juga sedang promo sinetron terbaru, yang segera tayang di layar kaca," katanya.
Lantas apa makna Hari Pers Nasional bagi Vanno saat ini? Baginya, diselenggarakan Hari Pers sangat bagus karena wartawan tidak hanya mencari berita dan dikejar deadline, tetapi juga menjalin hubungan sesama pers dalam bentuk olahraga, dan hubungan dengan kalangan artis pun menjadi dekat.
"Aku senang dengan HPN, ada diskusi sehingga aku bisa mengeluarkan unek-unek kepada teman-teman pers," katanya.
Jones Rivanno yang juga mengaku kalau naik karirnya saat ini tidak terlepas dari peran pers yang sudah membesarkannya. Namun begitu, momentum HPN ke-10 kali ini, tenryata Rovanno memiliki harapan dan sebuah keinginan.
"Aku mendukung kebebasan pers, tetapi berita-berita yang disampaikan agar lebih mendidik," katanya.
Kalau dari sisi profesional, Vanno mengaku pekerja jurnalis saat ini sudah sangat profesional. Mungkin ada satu atau dua oknum tertentu saja yang terkadang tidak profesional bahkan pemberitaan sampai mengusik ketenangan orang.
"Kalau berita-berita yang gitu-gitu, gak perlu diberitakan. Kan kasihan dengan keluarga," katanya.
Kendati begitu, Vanno mengaku kagum dengan irama kerja pers yang dari hari ke hari yang tidak pernah mengeluh dan penyerah.
"Semua dijalani, kendati berisiko," kata Vanno serata berujar Selamat Hari Pers Nasional untuk wartawan Indonesia.