
“EMAS itu tabungan istri saya selama sepuluh tahun. Maksudnya untuk biaya umroh kami berdua. Ini cobaan dari Allah,” kata Haji Sobri, Minggu (7/2) di kediamannya Jl Srijaya No 680 Rt 14/Rw 5 Sukarami.
Emas 65 suku itu dikumpulkan istrinya, Cahaya, dari penghasilan sebagai guru SD dan membuka warung kecil serta usaha fotokopi di depan rumah. Jika diuangkan emas itu bernilai Rp 136 juta. Uang sebanyak itu cukup untuk dua kali umroh pasutri ini. Namun, tak tampak raut sedih di muka mereka. Saat diwawancarai Sripo, Minggu (7/2) malam pasutri ini lebih banyak tersenyum ketimbang bersedih. Rumah mereka di Jl Srijaya No 680 RT 14 RW 5 Sukarami, tampak ramai didatangi oleh anak dan cucunya. “Kami pasrah dengan kejadian yang datang pada keluarga kami. Kami sudah ikhlas dan menghadapi dengan sabar. Mungkin ada hikmah dibalik kejadian tersebut,” ujar kakek dari sepuluh cucu ini dengan nada tegas. Sobri juga menambahkan bahwa jika ada uang lebih, mereka pasti membeli emas untuk investasi. Sehingga lebih dari sepuluh tahun, jumlah perhiasan yang mereka kumpulkan seberat 65 suku emas. “Anak-anak juga sering kasih uang jadi bisa nambah-nambah untuk pergi umroh,” ujar Sobri. Ayah dari lima orang anak ini juga menambahkan bahwa secepatnya mereka akan pergi Umroh jika dana yang dikumpul sudah terasa cukup. Menurut pasutri ini, mereka lebih memilih emas karena dapat dipakai dan dijual kapanpun jika membutuhkan uang. Tidak hanya kehilangan emas saja. Satu bulan kemarin, menantu lelaki mereka meninggal dunia. Sehingga mereka masih dalam suasana berkabung. “Karena sudah musibah yang direncanakan oleh Allah, Allah yang menentukan segala-galanya, kita sebagai manusia hanya dapat menerimanya dan bersyukur,” tambahnya lagi. Pasangan suami istri ini telah menunaikan ibadah haji pada tahun 2005. Tahun ini mereka berencana pergi umroh. Namun dengan hilangnya perhiasan emas tersebut. Mereka tetap bersyukur karena emas yang hilang dapat dicari kembali. Haji Sobri akan mengumpulkan uang kembali. Sobri juga mengharapkan kepada pemerintah agar jalan di sepanjang Jl Srijaya disamping museum Balaputera Dewa diberikan penerangan. Karena di daerah tersebut raan dengan tindak kejahatan seperti jambret dan curanmor. Ditinggal 3 Jam Peristiwa itu terjadi saat Sobri dan istrinya Cahaya Khairani (58) menghadiri undangan pernikahan anak tetangganya di Museum Balaputera Dewa. Tiga jam di tempat resepsi itu keduanya pulang ke rumah. Dengan berjalan kaki mereka pulang karena jarak rumah dan museum sekitar 200 meter. Ketika sampai di depan rumah, ada seseorang yang melompat keluar dari pagar. Wajahnya tidak tampak karena pria itu memakai helm. Sobri sempat bertanya ke pria berhelm itu mau apa. Pria itu sempat menjawab mencari pemilik rumah. Namun kemudian secepat kilat ia naik motor temannya yang menunggu di seberang jalan. Sobri dan istrinya yang sudah merasa tidak enak hati segera masuk rumah. Betapa terkejut saat mereka mendapati rumah dalam keadaan kacau. Pintu lemari pakaian juga berantakan. Korban pun melaporkan ke Poltabes dan Polsek Sukarami. Unit Identifikasi Poltabes langsung melakukan identifikasi sidik jari pada gagang pintu rumah dan lemari. Peristiwa itu diperkirakan terjadi pukul 10.00-11.00. Dijelaskan Sobri, pintu pagar terkunci. Namun dua kamar di dalam ruangan tidak dikunci. Pelaku dengan leluasa masuk dan menggeledah dan mencari barang-barang berharga. Menurut keterangan korban, ada beberapa barang berharga yang hilang dari dalam lemari. Di antaranya uang dan emas. “Ada uang Rp 12 juta dan emas sebesar 65 suku yang hilang,” ujar Sobri kepada petugas Poltabes. Uang dan emas tersebut disimpan dalam dua tas kecil berwarna hitam. Tas tersebut diletakkan dalam lemari di kamar dan diselipkan di antara pakaian. Dari keterangan korban dan beberapa saksi, diperkirakan ada tiga orang pelaku. Satu orang mengawasi korban yang saat itu sedang menghadiri pernikahan sekitar 200 meter dari rumah dan mengawasi keadaan jika korban sudah pulang. Satu orang pelaku menunggu di luar rumah dengan sepeda motor yang masih menyala dan satu orang lagi masuk ke rumah dengan membongkar kunci rumah.“Aku cuma lihat dua orang pelaku yang menggunakan jaket hitam dan berhelm tertutup sambil mengendarai sepeda motor,” ujar Sobri. Berdasarkan hasil identifikasi Poltabes Palembang, komplotan tersebut bekerja secara profesional dan mengetahui keadaan rumah. Karena pelaku langsung masuk ke kamar tempat disimpan emas dan uang serta mengetahui jika korban sedang pergi. Di TKP juga tidak ditemukan sidik jari pelaku yang menempel. Dugaan sementara, pelaku menggunakan sarung tangan agar tidak mudah teridentifikasi serta membuka pintu dengan linggis atau besi. Dengan harga emas saat ini yang sebesar Rp 2,1 juta per suku. Kerugian korban diperkirakan sebesar 136,5 juta belum ditambah uang yang hilang Rp 12 juta. Emas yang hilang berupa anting, gelang, kalung dan cincin. Kapoltabes Palembang Kombes Pol Luki Hermawan melalui Kasat Reskrim Kompol Andry Setiawan telah menerima laporan tersebut dan sedang dalam proses penyelidikan. (mg4)