MUARAENIM, SRIPO — Luapan Sungai Lematang menenggelamkan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Setelah sebelumnya di Muara Gula, Kecamatan Ujan Mas, sekarang beralih ke Desa Perjito, Kecamatan Gunung Megang, Muaraenim, Minggu (7/2). Jalinsum yang melintasi desa tersebut digenangi air setinggi 60 sentimeter.
Diperkirakan beberapa hari mendatang, banjir akan menggenangi daerah-daerah yang berada di hilir Sungai Lematang. Di daerah Kecamatan Benakat, Gunung Megang dan Rambang Dangku saja air mulai naik. Keesokan harinya Jalinsum di Kecamatan Rambang Dangku ke arah hilir diperkirakan akan tenggelam seperti tahun sebelumnya. Masyarakat yang akan melintasi jalinsum di wilayah itu harus hati-hati. Alhasil kondisi lalu lintas merayap bahkan macet. Jalan hanya akan difungsikan satu jalur yakni pada tempat yang relatif tinggi. Sementara itu di wilayah ibukota Kabupaten Muaraenim dan sekitarnya, dari pengamatan dan informasi yang diperoleh Sripo, air mulai surut. Warga sudah mulai membersihkan dan membereskan perabotan rumah yang kotor akibat banjir. Daerah di Desa Muara Gula air sudah tidak menggenangi Jalinsum. Kapolres Muaraenim AKBP Drs H Yohanes Suharmanto SH Sik melalui Wakapolres Muaraenim, Kompol Barliansyah SH, mengatakan, pihaknya mengerahkan sepertiga kekuatan personil Polres Muaraenim. Selain itu dibantu TNI, Pol PP dan pihak terkait. Mereka mengamankan seluruh ruas jalan yang dianggap rawan, pengungsian, dan tempat tinggal warga khususnya rumah yang ditinggalkan. Sedangkan untuk jalur jalan lintas, jika air semakin tinggi pihaknya akan memberikan jalan alternatif untuk pengguna jalan. Putus Tali Sling Sementara itu, akibat dari banjir yang terjadi di OKU, jembatan gantung yang menghubungkan Desa Panaimakmur atau yang lebih dikenal Trans III dengan Desa Seleman Kecamatan Semidangaji putus akibat dihantam kayu ketika air banjir. Namun putusnya jembatan menyebabkan 200 kepala keluarga desa seberang sungai menjadi terhambat untuk membawa hasil bumi keluar desa. Juga untuk berbelanja kebutuhan pokok. Warga terpaksa menempuh jalur alternatif melalui jembatan gantung Desa Singapura atau Desa Pengaringan.Menurut Kepala Desa Seleman Hendri, jembatan yang dibangun secara swadaya enam tahun lalu itu putus sekitar pukul 00.00. Tali sling putus dari tiang dan jatuh ke Sungai Ogan yang sedang meluap. Kondisi yang paling memprihatinkan akibat putusnya jembatan gantung dialami anak-anak sekolah. Pada hari pertama jembatan hanyut mayoritas anak-anak tidak ada yang sekolah. Anak-anak sekolah terpaksa harus jalan kaki menempuh jalan bebatuan yang belum diaspal lewat perkebunan rakyat sepanjang 2 Km baru menyeberang melalui jembatan gantung di Desa Singapura.Hujan lebat yang hampir setiap hari turun ini juga mengakibatkan jembatan-jembatan darurat di anak-anak sungai banyak yang terbawa arus seperti jembatan di areal perkebunan karet di Kurup. Dibantu Beras Untuk mengantisipasi krisis pangan, khususnya untuk para korban banjir, Pemprov Sumsel telah membantu beras lima ton. Penyerahan dilakukan langsung oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Alam Sumsel Yulizar Dinoto kepada Sekad Kabupaten Muaraenim, Drs H A Wahab Maharis di halaman Pemkab Muaraenim. Menurut Yulizar Dinoto, bantuan beras ini merupakan tahap awal yang bertujuan untuk menanggulangi krisis pangan bagi korban banjir yang sifatnya darurat dan cepat. Untuk lauk pauknya seperti ikan kalengan, mi instan dan lainnya akan menyusul. Bantuan tersebut merupakan bantuan dari Gubenur Sumsel. Oleh karena itu, didalam pendistribusiannya diharapkan benar-benar sampai kepada yang berhak.“Untuk bantuan dan jenisnya bisa saja bertambah, tergantung kebutuhan dan kondisi di lapangan,” ujar Yulizar. (ari/eni)