AGUSTUS 2000. Lantai empat Markas Besar (Mabes) Harian Umum Sriwijaya Post Jalan Kapten A Rivai Palembang. Seorang pria tua asyik mengamati koran terbitan nasional. Di sebelah koran yang ia sedang baca, tumpukkan koran-koran terbitan lokal dan nasional. Pakaianya lusuh. Rambut dan kumisnya, dibiarkannya memanjang. Semuanya sudah tampak memutih.
Tangan kirinya memegang rokok kretek. Ia berdiri tegak. Sesekali dia menyembulkan asap rokoknya, sehingga membentuk gumpalan di ruangan itu. Setelah itu, biasanya dia terbatuk-batuk kecil.
Lantai empat itu adalah ruang Pusat Dokumentasi dan Perpustakaan Sriwijaya Post. Seperti biasa, setiap malam, sehabis mengerjakan tugas, saya bergegas ke lantai empat, sekedar membaca koran nasional, majalah dan buku-buku baru. Karena masih orang baru di Sripo, saya mengamati pria itu lalu mengajaknya berkenalan. Obrolan seputar perkenalan diri.Pertemuan saya dengan H Mouthalib Adams, pria tua itu, biasa disapa Pak Tholib, tidak berhenti pada malam itu. Setiap kali, ke lantai empat, saya selalu menyempatkan diri mengobrol dengan Pak Tholib, terutama untuk mendengar cerita dia sebagai wartawan senior. Apalagi setelah tahu, Pak Tholib, salah satu perintis berdirinya Sriwijaya Post. Artinya, dia tahu betul latar belakang Sriwijaya Post berdiri, dan terpenting lagi, asam garam dunia wartawan, sudah dipijaknya.
Pertemuan dengan Pak Tholib, meninggalkan kesan bagi saya, bahwa beliau sosok yang tegas, tidak neko-neko, tapi juga tidak ambisius. Orangnya biasa-biasa saja. Tapi jika sudah bicara. Suara beratnya memecahkan kesunyian ruangan. Jika ada yang melintas, orang pasti bisa menebak, Pak Tholib, lagi orasi. Banyak cerita dan pengalaman beliau, ditularkan kepada saya, yang waktu itu baru berumur jagung terjun ke dunia pers.
Salah satu cerita beliau kepada saya, saat dijidatnya mendarat ujung pistol tentara. Ceritanya begini. Itu terjadi pada 1960-an. Ia bekerja pada salah satu suratkabar dipimpin Alwi R Pandita (Alm), pendiri Sumatera Eskpress. Saat itu, nama suratkabar mereka belum bernama Sumatera Ekspress.Atas kebijakan redaksi, hari itu disepakati, menurunkan headlines, mengenai tindak asusila yang dilakukan tentara. Kontan saja petinggi tentara merah padam. Sadar bakal diserbu tentara, awak redaksi raibkan diri. Tapi tidak bagi Pak Tholib. Ia masuk kantor meski esoknya koran tidak terbit. Seperti diduga, kantor koran yang beralamat di kawasan Sekanak 27 Ilir, (kediaman Alwi R Pandita), didatangi korps baju loreng.
Ketika itu, cerita Pak Tholib, dia sedang mengerjakan tulisan di mesin ketik. Sebagai manusia biasa, ia dilanda ketakutan. Tapi dia tidak panik. Saat gerombolan sepatu lars itu mendekati pintu masuk kantor, Pak Tholib menjauh dari mesin ketik. Ia mengambil sapu kantor.
“Mana pemimpin redaksi dan wartawannya,” ujar salah seorang dari gerombolan itu. Ujung pistol dari salah seorang gerombolan itu mendarat mulus di jidat Pak Tholib.
“Tidak ada yang masuk, hari ini libur,” kata Pak Tholib, sambil memegang sapu.
“Kamu siapa,” tanya tentara lagi.
“Saya hanya tukang sapu di kantor ini,” kata Pak Tholib.
Mendapati yang mereka cari tidak ada. Para tentara balik kanan. Pak Tholib bernapas lega. Padahal, sang penulis berita asusila tentara itu, Pak Tholib.
“Jadi, ketika itu, bekerja sebagai wartawan, penuh dengan resiko, dan ketika itu tidak ada jaminan asuransi,” kata Pak Tholib. Ia berkata, zaman itu, jika mau selamat seorang wartawan harus sebisa-bisanya jaga diri.
Saya juga sering bertemu dengan Pak Tholib di depan Kantor Pos Jalan Merdeka Palembang dan depan IP Jalan Letkol Iskandar Palembang. Dua tempat itu adalah lapak penjual koran. Pak Tholib, saya lihat, sering membaca koran dan terlibat ngobrol dengan para penjual koran tersebut. Saya juga ikut nimbrung jika Pak Tholib mengobrol dengan penjual koran. Mulai dari isu politik, kejahatan, politik lokal dan lain sebagainya.Lihai TTS Yang tak mungkin lupa pula dari sosok Pak Tholib adalah kelihaian dan kecepatan dalam mengisi dan membuat Teka Teki Silang (TTS). Ia pernah mengasuh TTS dan rubrik ramalan bintang di Sriwijaya Post edisi Minggu. Dari kelihaiannya mengisi TTS di koran lokal dan nasional, membuat dirinya sering menjadi pemenang. Terkadang ada adagium yang muncul di kalangan rekan-rekan, jika ada TTS di koran nasional, ada pemenang dari Palembang, kuat diduga itu adalah Pak Tholib.Soal keahlian Pak Tholib mengisi TTS, pernah saya ceritakan dengan Arif Ardiansyah, koresponden Tempo di Palembang. Ia tertarik untuk menulis profil singkat wartawan senior Palembang itu. Bahkan, kami berdua, pernah berangan-angan menulis biografi Pak Tholib. Betapa pun, Pak Tholib adalah saksi sejarah dari perjalanan suratkabar di Sumatera Selatan.
Selasa, pukul 19.30, seorang teman lewat jejaring sosial Facebook, mengabarkan bahwa Pak Tholib, telah mendahului istri, anak-anaknya, saya, keluarga besar Sriwijaya Post menghadap Sang Pencipta.
Pak Tholib adalah manusia biasa. Ia pun memiliki kekurangan, kekhilafan. Dia tidak sempurna. Memaafkan beliau, merupakan tindakan yang arif. Saya pun harus meminta maaf kepada beliau.Lewat salat Isya, saya kirim Al Fatihah kepada ruh Pak Tholib. Semoga Pak Tholib damai di alam sana. Ya Allah, ampuni dosa dia, lapangkan kubur dia, masukkanlah dia dalam rombongan para rasulMu, nabiMu dan orang-orang saleh. Selamat jalan Pak Tholib...
(Penulis: Syamsul Hidayah: wartawan Sriwijaya Post, 2000-Juli 2009)