
JAKARTA, SRIPO — Akhirnya terungkap tersangka teroris Syaifudin Zuhri alias Syaifudin Jaelani dan Mohammad Syarir bisa ngekos di kawasan Ciputat karena atas bantuan Soni (24). Soni adalah rekan Fajar Firdaus, keponakan Syaifudin-Syahrir.
Fajar yang lebih dulu ditangkap sebelum Syaifudin-Syahrir digerebek memang dimintai tolong kedua pamannya itu untuk mencari kos-kosan. Fajar kemudian minta tolong Soni. Dapatlah tempat kos di kawasan Ciputat dengan sewa Rp 437 ribu sebulan. Yang membayar kamar kos Soni dan Aan (belum tertangkap, Red) Karena telah mencarikan tempat kos, Soni diduga telah membantu Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir bersembunyi. Soni pun telah ditangkap polisi saat menjadi relawan dalam bencana gempa di Sumatera Barat. “Saudara Soni mencarikan tempat kos untuk Syaifudin dan Syahrir,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (12/10). “Sekarang Soni telah ditangkap di Padang waktu menjadi sukarelawan di sana,” lanjut Nanan. Ditambakan, Soni adalah mahasiswa UIN Hidayatullah. “Dia jurusan MIPA. Umurnya 24 tahun.” Sebelumnya diberitakan, Densus 88 menggerebek sebuah kamar kos di Ciputat, 9 Oktober lalu. Dalam penggerebekan itu, Syaifudin dan Syahrir ditembak mati oleh petugas. Polisi mengaku terpaksa menembak karena keduanya nekat menyerang polisi dengan melemparkan 3 bom tangan. Namun dari tiga bom kecil tersebut, hanya satu yang meledak. Total tersangka bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton sebanyak 22 orang. Dengan rincian 2 orang tewas di tempat (pelaku bom bunuh diri Danni dan Maulana), 9 ditembak mati saat penangkapan dan 11 lainnya ditangkap hidup-hidup. Sedangkan secara keseluruhan dari berbagai kasus terorisme berhasil ditangkap polisi sebanyak 466 orang, dari jumla itu 452 orang sudah, sedang dan akan menjalani sidang. Sementara 14 tersangka ditembak mati saat penangkapan. DNA Cocok Sementara itu hasil tes DNA dan sidik jari terhadap kedua jenazah yang tewas tertembak di kamar kos Ciputat, Tangerang pada Jumat (9/10), cocok dengan Mohamad Syahrir dan Syaifudin Zuhri. Rencananya, kedua jenazah akan dimakamkan pada Selasa (13/10) pagi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Jakarta Timur. “Kita sampai pada kesimpulan, berdasarkan hasil pemeriksaan analisa berdasarkan Father, Mother, and Child Analysis, sampel DNA dan bukti. Telah dibuktikan secara ilmiah dengan body label 001 adalah Mohamad Syahrir ayah biologis dari anak laki-laki berinisial K dan body label 002 teridentifikasi sebagai Syaifudin Zuhri ayah biologis dari seorang anak perempuan bernisial S,” ujar Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri Brigjen Eddy Saparwoko dalam jumpa pers di Mabes Polri bersama Kadiv Humas Polri Irjen Nanan Sukarna. Polisi juga mengambil DNA dari dua wanita asal Bekasi dan Kuningan, Jawa Barat untuk mencocokkan kedua jenazah. “Seorang ibu berinisal M yang dikenal istri almarhum Syahrir dari Bekasi. Dari Kuningan berinisial HS yang dikenal sebagai istri SZ,” tambah Edy. Dia sengaja menyembunyikan identitas kedua anak-istri Syaifudin dan Syahrir, untuk kebaikan masa depan mereka. Syahrir memiliki tahi lalat di sudut mata kanan. Selain itu, Syahrir juga memiliki 10 ciri-ciri umum dan yang khusus. Sedangkan Zuhri, ciri fisiknya sangat signifikan yakni telinganya sobek dibagian bawah. Setelah teridentifikasi, polisi membolehkan keluarga untuk mengambil dan memakamkan jenazah Syaifudin-Syahrir, hari ini (13/10). (persda network/sj1/sj2/sj3/yon)