KAPAL nelayan yang digunakan Tim Ekspedisi Sriwijaya menari-nari diayun ombak Selat Bangka. Terpaan angin selatan yang cukup kencang membuat buih-buih putih bertebaran di permukaan laut. Pertanda alam, tinggi gelombang sudah lebih dari satu meter.
Aryandini Novita (37) arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, satu-satunya perempuan yang masuk tim penyelaman hari pertama, memilih berbaring di buritan kapal kayu sekadar untuk mengurangi rasa mual. Apalagi dua warga Desa Kotakapur, sejak awal sudah memanggil uwak... uwak.... yang mulai menular ke sejumlah penumpang lainnya. Juru mudi lebih memilih memperhatikan tanda-tanda alam, permukaan laut, Pulau Lampu dan Bukit Besar (Bangka-Belitung) dan Tanjung Selokan (Pulau Sumatera). Hanya sesekali mengarahkan padangan ke layar alat penunjuk arah posisi global, global positioning system (GPS) terkoneksi dengan belasan satelit di angkasa, yang menyimpan memori posisi kapal karam dijadikan sasaran penyelaman. Hari kedua penyelaman, titik sasaran yang telah ditandai sehari sebelumnya dengan botol air mineral yang diikatkan pada bagian kapal yang tenggelam lebih mudah. Apalagi cuaca cukup baik, ombak tak terlalu tinggi. Budi Wiyana, dive master, sibuk mencatat hal-hal teknis alat penyelaman, termasuk kembali mengecek kamera dan dua kamera video bawah air. Lagi-lagi arus kencang, dan di bawah permukaan terasa lebih deras dari arah Timur Laut untuk mencapai posisi kapal di kedalaman 17 Meter. Tim dokumentasi merekam beberapa bagian kapal, termasuk perkiraan panjang kapal sekitar 70 Meter. Dua kali penyelaman, belum ditemukan identitas kapal besi yang sudah patah di bagian tengah dan dalam posisi miring. Tim dari Direktorat Peninggalan Bawah Air, Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya, memutuskan menambah sehari lagi dari jadwal yang ditentukan untuk melengkapi data yang telah diperoleh. Budi Wiyana hingga kini mendata sekitar 21 lokasi, bahkan ada catatan lain jumlahnya 40 titik kapal karam di perairan Bangka-Belitung. Termasuk titik penyelaman di utara Pulau Pelepas (warga setempat menyebutnya Pulau Lampu) yang ditandai berdirinya menara mercusuar. Mercusuar Pulau Pelepas, satu dari tiga penunjuk arah bagi nakhoda kapal yang melewati Selat Bangka. Mercusuar Tanjungkelian, Mentok yang berhadapan langsung dengan Muara Sungai Musi dan sebagai petunjuk memasuki perairan Selat Bangka dan di belakangnya adalah Gunung Menumbing yang dijadikan patokan bagi pelayaran pada masa abad pertengahan. Di selatan selat ini, terdapat mercusuar Pulau Maspari (Ogan Komering Ilir, Sumsel) sebagai penanda segera memasuki perairan Laut Jawa. Dan sebaliknya, pelayaran dari selatan. Yang menarik perhatian dari Pulau Pelepas, selain menara suar yang terbuat dari besi berlapis timah sebagai galvanis anti karat--termasuk kategori teknik metalurgi advance—, sekaligus dimanfaatkan nelayan lokal untuk berlabuh dan memperoleh air tawar; menurut Vivi panggilan Aryandini Novita, renovasi dilakukan atas permintaan Ratu Belanda Wilhelmina pada tahun 1893, seperti yang tertera pada prasasti di pintu menara. Sekitar 20 kilometer ke arah utara titik inilah letak muara Sungai Menduk. Muara yang terlindung gugusan tiga pulau tak berpenghuni untuk menuju Situs Benteng Kota Kapur. Situs yang ditemukan pada tahun 1892 ini menunjukkan berlangsung peradaban di tanjungan yang dikelilingi oleh rawa laut dan terdapat --tanah genting--menuju darat. Di bagian itu membentang tanah setinggi empat meter. Selain ditemukan berbagai artefak, candi dan arca, juga ditemukan prasasti berisi peringatan dari penguasa Kedatuan Sriwijaya, kemudian dikenal sebagai Prasasti Kota Kapur. Bila mercusuar Tanjung Kelian didirikan tahun 1862, Pulau Lampu direnovasi 1893 atau 10 tahun setelah Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus dan disertai gelombang besar. Tak ada catatan khusus tentang korelasi antara gelombang tsunami menyusul letusan Gunung Krakatau, renovasi mercusuar Pulau Pelepas dan penemuan Prasasti Kota Kapur, yang mencatatkan keberadaan Kerajaan Sriwijaya yang menjadi pembicaraan kalangan ilmuwan di awal abad ke-20, menyusul terbacanya pesan tulisan Pallawa berbahasa Melayu Kuno itu. (sutrisman dinah)