
PALEMBANG, SRIPO — Satu lagi bukti warga Sumsel khususnya masyarakat Minang perantau begitu peduli dengan korban gempa di Kota Padang, Pariaman dan Agam, Sumatera Barat (Sumbar). 300 Kilogram (Kg) daging rendang basah (cair), Rabu (7/10) dikirim ke lokasi gempa bersama 15 ton beras, mi instan, dan alat-alat pertukangan dengan total bantuan Rp 120 juta lebih.
Pengiriman bantuan yang diangkut dengan empat truk melibatkan 20 orang relawan, dilengkapi empat unit kendaraan roda empat operasional dan dua sepeda motor. Selain bahan makanan dan obat-obatan, relawan yang dipimpin H Erwin Lismar ini juga membawa satu truk alat pertukangan yang setibanya di lokasi bencana akan dibagikan langsung kepada korban gempa, dengan harapan alat-alat pertukangan ini dapat membantu penduduk merehabilitasi pemukimannya kembali atau paling tidak dapat digunakan untuk menggali puing-puing bangunan yang ambruk. Pemberangkatan bantuan dan relawan di Halaman Parkir RM Pagi Sore Jl Basuki Rahmat disaksikan sesepuh dan tokoh masyarakat Minang di Palembang, seperti H Lismar Sutan Mahmud, Ketua Ikatan Keluarga Agam Bukittinggi (IKAB) Prof dr Chairil Anwar dan Penasehat Tim Bantuan Gempa Sumbar yang juga Ketua Kinantan Center (Kc) H Afrinaldy. Terkait pengiriman daging rendang, H Lismar mengatakan, korban gempa sangat membutuhkan bahan makanan yang siap untuk dimakan. “Mungkin saudara dan anak keluarga terkena musibah sudah bosan makan mi, Kita coba kirim rendang masak, semoga dapat menghibur dan dinikmati warga yang tertimpa musibah,” katanya. 300 Kg rendang ini dimasak di empat tempat terpisah, seperti RM Pagi Sore Basuki Rahmat dijatahi 100 Kg, RM Pagi Sore Cabang Ahmad Yani (100 Kg), Cabang Inderalaya (50 Kg) dan Cabang Pusri (30 Kg). Secara bersamaan, 300 Kg rendang ini mulai diracik dan dimasak pukul 12.00 dan selesai pukul 18.00 atau tiba waktu mahgrib. Begitu selesai di masak, pukul 21.00 rendang mulai dimasukan dalam kantong paket khusus (dikemas) masing-masing isi 0,5 Kg atau 9-10 potong rendang. “Kenapa dimasak di tempat berbeda agar dagingnya tetap segar,” kata H Lismar. Untuk satu kantong, lanjut Lismar, diharapkan dapat dikonsumsi satu keluarga 9-10 jiwa sehingga 300 Kg daging rendang yang dikirim dapat dinikmati 6000 jiwa korban gempa. “Rendangnya sendiri bisa tahan sampai dua minggu tanpa bahan pengawet. Semua itu tergantung racikan bumbu dan tehnis pengemasan,” katanya. Kepedulian Warga Sementara Ketua Kinantan Center Afrinaldy berharap relawan yang turun ke lapangan dapat berkordinasi dengan Satkorlat di Padang dan mendistribusikan bantuan secara langsung ke masyarakat yang membutuhkan. “Kita siapkan dua sepeda motor, tujuan agar daerah-daerah sulit dijangkau dengan roda empat, bisa dimasuki dengan roda dua,” katanya. Afrinaldy juga berterima kasih dengan warga Sumsel yang bukan berasal dari Minang, seperti warga Etnis Tionghua dan warga Sumsel lainnya yang tergabung di Forum Komunikasi Alumni ESQ, donatur yang begitu peduli dengan musibah yang dialami warga Minang di Padang, Pariaman dan Agam. (sin)