
PADANG, SRIPO — Bantuan bagi korban gempa di Sumatera Barat (Sumbar) mulai dijarah warga. “Kita sudah menerima laporan penjarahan yang dilakukan oknum masyarakat dan tindakan itu sangat disesalkan,” kata Kepala Sekretariat Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edwar kepada wartawan di Padang, Minggu (4/10).
Ia menyebutkan, penjarahan bantuan dalam bentuk bahan makanan itu terjadi atas truk yang membawa bantuan. Laporan penjarahan diterima dari para supir truk yang membawa bantuan, namun di daerah mana aksi itu terjadi, Ade, tidak bersedia menyebutkan. Ia menjelaskan, kronologis penjarahan dilakukan banyak oknum warga dengan menghentikan truk yang membawa bantuan, lalu barang yang dibawa dipaksa diturunkan lalu dibawa oleh oknum-oknum tersebut. Para supir tidak dapat mencegah, apalagi truk-truk pembawa bantuan belum dikawal aparat keamanan. “Pelakunya adalah oknum tak bertanggungjawab,” kata Ade. Ia mengharapkan, masyarakat dapat membantu upaya pendistribusian bantuan bagi para korban gempa dan aksi penjarahan diharapkan tidak lagi terjadi. Dari Kabupaten Padang Pariaman, juga dilaporkan terjadi penjarahan di posko penampungan bahan bantuan, oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab. Barang-barang yang dijarah, bahkan ada yang dibawa oleh warga menggunakan kendaraan roda empat. Masih belum jelas apakah penjarahan itu dilakukan oleh korban gempa yang benar-benar memerlukan bahan makanan ataukah ada oknum warga yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi. Menumpuk di Padang Sudah empat hari pasca gempa mengguncang Sumbar yang menelan ratusan nyawa dan ratusan orang hilang. Namun sayangnya bantuan dari berbagai daerah serta relawan banyak menumpuk di Padang. Akibatnya Padang Pariaman terabaikan. Korban yang hilang akibat gempa masih ratusan jiwa menyebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Padang Pariaman. Dikabarkan, ada 600 orang hilang tertimbun tanah longsor serta reruntuhan rumah.Sudah empat hari gempa berlalu. Pariaman seakan terabaikan dari masalah yang sesungguhnya yakni juga bagian dari korban gempa. Ribuan rumah hancur berantakan. “Kita juga korban, tapi kenapa bantuan tidak merata? Jangankan relawan datang, tenda untuk kami berteduh pun tidak kunjung kami dapatkan,” kata Imam Kalek, warga Kecamatan Patamuan, Pariaman dalam perbincangan dengan pers, Sabtu (3/10). Apa yang dikeluhkan warga ini benar adanya. Sejumlah bantuan alat berat, sembako serta relawan lebih banyak menumpuk di Padang. Padahal jumlah orang hilang saat ini lebih banyak di Pariaman.Akibat bantuan yang menumpuk di Padang ini, korban gempa di Pariaman justru terancam sembako, terancam kesehatan mereka. Warga banyak tidur tanpa beralas tenda. Anak-anak balita yang mengharapkan bantuan susu, tak juga kunjung datang. “Apa kami ini bukan korban gempa juga? Mengapa semuanya menumpuk di Padang? Agaknya pemerintah tidak adil,” keluh Simon (37), warga Dusun Sikapak Kecamatan Padang Pariaman Utara.Keluhan yang sama juga disampai warga korban longsor di Kecamatan Patamuan. Lima dusun rata dengan tanah akibat longsornya tebing. Ratusan warga dinyatakan hilang. Tapi bantuan jenis sembako warga di sana belum juga menerimanya. Padahal mereka saat ini butuh asopan makanan karena kampung mereka terbenam dengan tanah. “Kami nggak tahu harus kemana lagi, kampung kami sudah rata dengn tanah. Pemerintah kok belum menjenguk kami,” keluh seorang warga yang enggan disebut namanya. (PersdaNetwork/TP/Dtc/Ant)