PALEMBANG, SRIPO — Penyebaran virus flu burung ternyata masih belum tuntas. Di Palembang, seorang perempuan berinisial SR (24) sejak, Sabtu (8/8) dirawat di ruang isolasi Paviliun Melati Gedung SARS Center RSMH Palembang. SR diduga (suspect) terinfeksi virus H5N1 penyebab flu burung (avian influenza). Dugaan itu diperkuat dengan hasil seri ronsen pada paru-parunya. Yakni, terjadi kelainan (lesey) dalam waktu singkat.
Informasi yang dihimpun Sripo, Minggu (9/8) menyebutkan SR sebelumnya sempat dirujuk ke RS AK Gani dengan dugaan awal Demam Berdarah Dengue (DBD). Tetapi setelah dirawat beberapa hari pasien mengalami sesak napas yang berkepanjangan sehingga pasien dirujuk ke RSI Siti Khadijah.
Selama dirawat di dua rumah sakit sebelumnya SR pernah dironsen (Sinar-X) pada 3 Agustus. Saat itu, kondisi paru-parunya bagus. Ronsen kedua pada 7 Agustus. Dokter mendapat gambaran kondisi paru-paru dengan bayang putih. Artinya terjadi penambahan kelainan secara cepat pada ladang paru-paru dalam waktu yang singkat. Atas temuan inilah, tim dokter RS Siti Khadijah, langsung merujuk pasien ke RSMH Palembang.
SR dirawat di Kamar No 1 Gedung SARS Center dengan ruang tertutup lengkap dengan alat bantu pernapasan. Perawat yang berada di ruang tersebut menggunakan masker dan pakaian steril khusus setiap kontak dengan pasien.
SR kemarin ditemani ibunya. Keluarganya sangat tertutup pada wartawan. Bahkan, keluarga pasien minta kepada tim dokter untuk tidak terlalu mengekspose kondisi SR karena khawatir mengganggu privasinya.
Saat diterima di Gedung SARS Center, tekanan darah korban 110/70.
Sedangkan suhu tubuh 37,8 derajat Celsius dengan keluhan sesak napas yang tidak normal dan batuk-batuk. Kemarin, Ketua Tim Dokter Dr Zen Ahmad SpPD (Paru) bersama tim medis lainnya, mengambil sampel spesimen air liur dan darah pasien untuk dikirim ke Laboratorium Kesehatan Depkes di Jakarta dan Labkes Palembang. “Untuk ke Jakarta kita butuh waktu lima hari untuk mengetahui hasilnya. Kalau di Palembang, dua tiga hari lagi,” kata Zen Ahmad.
Kepada wartawan, Zen Ahmad menegaskan, pasien SR bukan suspect flu babi tetapi riwayatnya mendekati indikasi flu burung.
“Namun ini baru dugaan, kita tunggu hasil penelitian,” katanya.
Dugaan flu burung, lanjut Zen Ahmad, karena RSMH sudah memiliki pengalaman penanganan pasien flu burung atas nama Marwiyah (21) mahasiswa Umbari Jambi, yang tinggal bersama orangtuanya di kawasan Dwikora yang meninggal 2007 lalu karena flu burung.
“Perubahan kelainan pada parunya sangat cepat,” katanya.
Ditanya soal riwayat pasien pernah kontak dengan unggas atau hewan sejenisnya, dr Zen Ahmad mengaku belum mengetahui.
“Yang pasti, pasien tidak pernah keluar negeri. Ia baru selesai sekolah dan mau mencari pekerjaan,” katanya.
Tidak Kemana-mana
Sripo yang berhasil ikut masuk ke ruang isolasi bersama Dirut RSMH Palembang, dr H Bayu Mahwudi SpOG MHA dengan mengenakan pasien khusus mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan pasien dan orangtua yang sedang menemani di Kamar No 1. Mereka sangat tertutup. Bahkan, kain gorden yang terpasang di pintu jendela ditutup sehingga wartawan yang berada di laur gedung tidak bisa mengambil gambar.
Sementara paman pasien yang berada di luar gedung dan tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan, keponakannya itu tidak memiliki riwayat kontak dengan unggas apa pun, terlebih ke luar negeri dan memang tidak kemana-mana.
“Kami menduga hanya demam biasa. Keponakan kami sedang mencari kerja,” katanya.
Kepada dr Bayu, si paman minta agar Tim Dokter RSMH membantu keponakan.
“Kami minta tolong dengan pak Dokter,” katanya kepada dokter Bayu yang baru keluar dari Gedung SARS Center. (sin)