Jumat, 3 September 2010
  • NEWSFLASH :
    • Laporkan Kegiatan 17 Agustus-an Anda ke Citizen Jurnalism Sripoku.com

    • Tribunnews.com - Portal Berita Indonesia
    • Baca Harian Umum Sriwijaya Post di epaper.sripoku.com
  • :
Endang: Itu Fitnah!
 
10-8-2009-utamaEndangIstiningsih.jpg
pn/herudin
Endang Istiningsih
Sriwijaya Post - Senin, 10 Agustus 2009 06:33 WIB

TEMANGGUNG, SRIPO — Endang Istiningsih (59), tak kuasa menahan bulir airmata meleleh di pipinya. Sesekali matanya tampak menatap nanar. Meski marah dan kesal, Endang tidak dapat berbuat banyak, kecuali hanya pasrah.
Selama kurang lebih 18 jam, Jumat hingga Sabtu pekan lalu, personel Densus 88 Antiteror Polri memberondong rumah mereka dengan peluru dan bom hingga hancur berantakan. Suaminya, Djahri (69), serta dua keponakannya, Aris dan Indra tidak diketahui ke mana. Diduga keduanya ditahan Densus Polri.
Endang berharap suami dan ponakannya dalam keadaan baik-baik saja. Berdasarkan catatan pada buku aparat Desa, tercantum nama Djahri, tetapi dia mengenalkan diri dengan nama Muh Zahri atau Mohzari.

“Sampai hari ini belum ada kabar dari bapak. Saya tidak tahu dia ada di mana atau bagaimana kabarnya,” ungkap Endang saat ditemui di kediaman adik iparnya, Darsinah, di Dusun Siwur, Kelurahan Karang Tejo, Temanggung, Jawa Tengah, Minggu (9/8).

Endang mengatakan, dia terakhir kali bertemu suaminya Jumat (7/8) sore, sekitar pukul 16.30, atau 30 menit setelah Densus mengepung kediaman mereka. Saat itu, keduanya berada di sawah yang berjarak satu kilometer dari rumah mereka di Dusun Beji Jurang, Desa Kedu, Temanggung, Jateng.

Djahri ditahan anggota Densus 88 Antiteror yang menggerebek kediamannya. Sedangkan Endang karena ketakutan memilih pulang ke rumah Darsinah, adik Djahri. Perempuan kelahiran Tegal itu membantah suaminya terlibat dalam penyembunyian gembong teroris Noordin M Top. Ibu dua anak ini juga mengaku tidak kenal dengan pria yang disebut-sebut sebagai Noordin dan menginap di rumahnya. “Itu fitnah, khianat!” tegasnya.

Kedatangan tamu yang diduga sebagai Noordin dan telah tewas ditembak polisi bukan karena keinginan mereka. Endang menuturkan pada Jumat (7/8) dini hari, sekitar pukul 02.30, Aris Susanto, datang ke kediaman mereka. Aris membawa seorang tamu, dan menitipkan seorang pria yang disebut temannya. Sebelum itu Aris sempat meminta izin kepada Djahri.

“Pakde, saya titip teman ya, biar tidur di sini dulu,” ujar Endang menirukan kata-kata Aris kepada Djahri.
“Suami saya langsung bilang iya. Dia juga lalu bilang ke saya kalau ada teman Aris yang ingin menginap,” lanjutnya.

Teman Aris tersebut kemudian masuk ke kamar yang ada di bagian belakang rumah. Tepatnya kamar yang ada di depan kamar mandi yang disebut sebagai tempat tewasnya Noordin.

Endang sendiri sempat membuatkan minuman untuk teman Aris tersebut usai Salat Subuh. Namun, minuman itu hanya ditaruhnya di depan pintu kamar. Sebab, sejak datang, pria itu selalu berada di dalam kamar.

“Dari datang sampai ada ramai-ramai kayak gini, saya tidak pernah lihat wajahnya seperti apa. Saya juga tidak kenal dia, juga saya tidak kenal Noordin” kata Endang.

“Jadi tidak benar kalau dia menginap. Tidak benar juga saya dan bapaknya mengontrakkan rumah. Itu rumah kami sendiri,” pungkasnya.

Mimpi
Sebulan lalu, Endang Istiningsih (59), seakan mendapat pertanda akan ada masalah menyangkut suaminya, Djahri alias Muh Zahri. Lewat mimpi, ia mendapat firasat, dia menyaksikan polisi menangkap suami tercinta. Dalam suasana baku tembak yang mewarnai penyergapan dramatis terhadap orang yang diduga Noordin M Top, Jumat lalu, di kediaman mereka, Djahri pun diringkus polisi. Mimpi Endang jadi kenyataan.

“Dalam mimpi itu saya nggak tahu masalahnya apa. Yang jelas ada tiga polisi yang datang ke rumah dan nangkap bapak,”kata Endang kepada Persda Netork yang menemuinya di Dusun Siwur, Kelurahan Karang Tejo, Temanggung, Jawa Tengah, Minggu (9/8). Rumah ini milik adik ipar Endang.
“Saat itu, dalam mimpi, saya sempat peluk bapak dan bilang orang tidak bersalah kok ditangkap. Lalu bapak jawab, udah nggak apa-apa, ikhlasin saja,” tambahnya.

Mimpi Endang diperkuat dengan firasat aneh yang menderanya sebelum meninggalkan rumah pada Jumat (7/8) sore, sekitar 30 menit sebelum polisi mengepung rumahnya. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa deg-degan. Seperti halnya mimpi sebelumnya, Endang tidak terlalu menggubris kekhawatiran tadi.
Pagi harinya, Endang beraktivitas seperti biasa. Setelah memasak, dia dan suaminya pergi ke sawah. Mereka baru pulang siang harinya. Selama itu pula Endang dan suami tidak pernah melihat teman Aris yang dititipkan di rumah mereka.

Di hari yang sama, usai menuaikan Salat Ashar, sekitar pukul 15.30 Endang kembali menemani suaminya ke sawah. Mereka berangkat dengan berboncengan dengan sepeda ontel. Sebelum meninggalkan rumah, Endang mengaku mendapat perasaan tidak enak. Namun perasaan itu diabaikannya.
Selang 10 menit kemudian, Endang dan suaminya mendengar suara ledakan. Mengingat perasaannya sebelum meninggalkan rumah, Endang langsung khawatir.

“Saya bilang ke bapaknya, tapi bapak bilang itu suara petasan,” tutur Endang. Tidak lama kemudian, tetangganya yang datang ke sawah, menemui Djahri dan Endang sembari mengatakan di rumah ada tamu.
“Akhirnya saya dan bapak pulang,” ujar Endang.

Namun karena ketakutan, Endang diturunkan di rumah Darsinah, adik Djahri, yang letaknya di antara sawah dan kediaman Djahri. Djahri pulang dengan bersepeda ontel dan pakaian lusuh yang biasanya dipakai ke sawah.
“Jadi bapak itu ditangkap hanya dengan pakaiannya untuk nyawah lengkap dengan camping,”pungkas Endang. (Persda Network/mun)



Di Baca 543 Kali
Beri Ranting :
Nama
Email
Alamat
Komentar
Kode Sekuriti

Tulis Kode sekuriti yang ada di samping
 
Saya menerima aturan dan syarat aturan dan syarat yang berlaku
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
.