JAKARTA, SRIPO — Sejumlah manajer investasi (MI) mulai kembali berlomba menerbitkan reksa dana saham baru. Berbagai produk reksa dana saham bermunculan, bersaing menawarkan keunggulan dan keuntungan yang mengiurkan.
“Kami melihat investor sudah makin berani mengambil risiko seiring dengan membaiknya kondisi pasar modal Indonesia. Investor menginginkan produk investasi yang memberi keuntungan tinggi dan mulai berani mengambil risiko,” ungkap Direktur Utama Asia Kapitalindo Securities Wim Alfatih di Jakarta, Sabtu (25/7).
Asia Kapitalindo adalah salah satu manajer investasi yang tengah menggarap produk reksa dana saham. Menurut Wim Alfatih, produk reksa dana saham Asia Kapitalindo saat ini dalam proses mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).
“Pekan lalu kami sudah mempresentasikan produk ke Bapepam dan pernyataan pendaftarannya sudah dimasukkan. Sekarang kami tengah menunggu pernyataan efektif dari Bapepam. Kami yakin produk reksa dana saham yang kami tawarkan akan dapat memenuhi keinginan investor,” kata Wim Alfatih.
Reksa dana saham yang akan diterbitkan Asia Kapitalindo Securities ini adalah reksa dana Asia Equity Fund. Produk reksa dana saham ini ditujukan bagi investor institusi, baik dana pensiun maupun asuransi. Targetnya, dana kelolaan reksa dana saham Asia Kapitalindo ini mencapai hingga Rp 500 miliar.
“Reksa dana Asia Equity Fund ini nantinya akan fokus pada alokasi portofolio di sektor pertambangan, perbankan, infrastruktur, dan consumer goods,” ujarnya.
Sebelumnya, Bapepam-LK sudah menerbitkan dua izin efektif reksa dana saham Indosurya Equity Fund yang diterbitkan PT Asjaya Indosurya Securities, dan reksa dana saham Lautandhana Equity Progresif dari PT Lautandhana Investment Management. Reksa dana saham Indosurya Equiti efektif berlaku 26 Mei, dan Lautandhana Equitiy efektif 23 Juni 2009.
Faktor Pendukung
Satu faktor pendukung mulainya merebak reksa dana adalah karena kondisi pasar modal yang membaik. Harga saham gabungan (IHSG) sudah naik sekitar 60 persen di atas level 2.100 poin. Bahkan, kinerja ini sudah pulih hampir 100 persen dari titik terendah 1.100 poin pada November 2008. Meski demikian, potensi penguatan harga saham dinilai masih cukup tinggi.
IHSG hingga akhir tahun ini diperkirakan masih berpotensi naik ke level 2.500 poin, lebih rendah dibanding posisi tertinggi 2.800 poin pada Juli 2008. Dengan kondisi seperti ini, reksa dana saham dalam setahun diperkirakan masih bisa memberi imbal hasil atau return 20 sampai 30 persen. (Persda Network/ugi)